Perkembangan teknologi lensa kontak dalam beberapa tahun terakhir semakin pesat, menghadirkan beragam inovasi material, desain, serta kenyamanan penggunaan. Salah satu inovasi yang banyak digunakan dalam dunia optometri adalah Precision Edge Design, yakni desain tepi lensa kontak yang dirancang secara presisi untuk meminimalkan gesekan, meningkatkan kenyamanan, dan mempercepat adaptasi pengguna. Bagi mahasiswa Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta, memahami fitur ini tidak hanya penting secara teoretis, tetapi juga sangat dibutuhkan dalam praktik klinis. Melalui metode simulasi pemasangan lensa kontak, mahasiswa dapat mempelajari langsung bagaimana desain tepi presisi memengaruhi teknik pemasangan, kenyamanan pasien, dan hasil akhir pemeriksaan refraksi.

Artikel ini membahas secara mendalam pentingnya Precision Edge Design, tahapan simulasi pemasangan yang efektif, hingga manfaat pedagogis yang dapat memperkuat kompetensi mahasiswa dalam menghadapi kasus-kasus klinis nyata.
1. Pemahaman Dasar tentang Precision Edge Design
Precision Edge Design adalah teknologi desain tepi lensa kontak yang diformulasikan untuk menciptakan tepi yang lebih tipis, halus, dan konsisten. Tepi lensa kontak berperan besar dalam kenyamanan, sebab area inilah yang paling sering berinteraksi dengan kelopak mata saat berkedip. Desain tepi yang tidak ideal, misalnya terlalu tebal atau kasar, dapat menyebabkan iritasi, ketidaknyamanan, bahkan meningkatkan risiko komplikasi seperti conjunctival staining.
Dalam konteks pendidikan optometri, mahasiswa Leprindo perlu memahami bagaimana variasi desain tepi dapat memengaruhi:
Stabilitas lensa pada kornea
Kenyamanan pemakaian sepanjang hari
Aliran air mata pada area tepi lensa
Risiko gesekan dengan konjungtiva dan kelopak mata
Teknologi Precision Edge Design hadir sebagai solusi untuk meminimalkan masalah tersebut, dengan menciptakan lensa yang lebih ramah terhadap pengguna, terutama bagi pemula atau pasien dengan mata sensitif.
2. Urgensi Pembelajaran Melalui Simulasi
Bidang refraksi optisi menuntut keterampilan praktis yang kuat, terutama dalam pemasangan dan evaluasi lensa kontak. Pembelajaran berbasis simulasi telah terbukti efektif karena memberikan ruang latihan aman, tanpa risiko langsung terhadap kenyamanan atau kesehatan mata pasien.
Bagi mahasiswa Leprindo, simulasi pemasangan lensa kontak dengan Precision Edge Design memiliki tiga urgensi utama:
a. Meningkatkan keterampilan procedural
Simulasi memungkinkan mahasiswa memahami bentuk, fleksibilitas, dan respons material lensa ketika disentuh atau ditempatkan pada mata. Dengan desain tepi yang presisi, mahasiswa dapat merasakan perbedaan antara lensa kontak biasa dengan lensa berteknologi tinggi.
b. Memperkuat kemampuan observasi klinis
Observasi terhadap bagaimana lensa menempel, bergerak, atau berinteraksi dengan kelopak mata sangat penting. Simulasi memberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan ini sebelum terjun menangani pasien.
c. Membangun kepercayaan diri mahasiswa
Mahasiswa sering kali merasa gugup saat pertama kali melakukan pemasangan lensa kontak pada pasien. Simulasi memberikan pengalaman awal yang aman untuk melatih ketenangan, ketelitian, dan komunikasi interpersonal.
3. Tahapan Simulasi Pemasangan Lensa Kontak Berbasis Precision Edge Design
Agar proses simulasi berjalan efektif dan memberikan pengalaman belajar maksimal, diperlukan tahapan sistematis. Berikut langkah-langkah yang umum diterapkan dalam laboratorium optometri Leprindo.
a. Persiapan Alat dan Bahan
Persiapan merupakan kunci pembelajaran praktik yang aman dan tertib. Adapun alat dan bahan yang harus disiapkan adalah:
Model anatomi mata atau ocular manikin
Lensa kontak dengan Precision Edge Design
Larutan saline steril
Pinset lensa kontak (optional, non-metal)
Tissue bebas serat
Sabun antiseptik untuk cuci tangan
Cermin meja (jika diperlukan untuk simulasi pada diri sendiri)
Instruktur perlu memastikan seluruh peralatan dalam kondisi higienis sebelum dan sesudah digunakan.
b. Edukasi Materi Pra-Simulasi
Sebelum praktik dimulai, mahasiswa harus memahami beberapa konsep dasar, seperti:
Cara membuka kelopak mata dengan teknik aman
Mengenali bagian depan dan belakang lensa kontak
Mengidentifikasi kontur tepi lensa dengan Precision Edge Design
Prinsip pergerakan lensa pada kornea
Pengetahuan pra-simulasi ini memberikan fondasi kokoh agar praktik berjalan efektif.
c. Demonstrasi oleh Instruktur
Instruktur memperagakan proses pemasangan lensa kontak mulai dari pencucian tangan hingga evaluasi akhir. Pada bagian ini, mahasiswa diajak memperhatikan:
Cara memegang lensa tanpa merusak tepi presisi
Teknik meneteskan saline untuk menjaga kelembapan lensa
Cara mengarahkan lensa dengan stabil menuju pusat kornea
Respons lensa setelah diletakkan (gerakan, sentrisitas, perlekatan)
Precision Edge Design biasanya membuat lensa lebih mudah “seat” pada mata, sehingga proses pemasangan terlihat lebih halus.
Baca Juga:Integrasi Pemeriksaan Pendahuluan dalam Kurikulum: Membangun Kompetensi Mahasiswa dalam Lensa
d. Pelaksanaan Simulasi oleh Mahasiswa
Pada tahap ini mahasiswa mempraktikkan pemasangan lensa pada:
Model mata (tahap awal)
Pasangan praktik sesama mahasiswa (tahap lanjutan)
Skill yang dilatih meliputi:
Koordinasi tangan dan posisi tubuh
Ketepatan meletakkan lensa tanpa melipatnya
Menghindari tekanan berlebih pada kelopak atau konjungtiva
Pemahaman respons anatomis pasien saat pemasangan
Penggunaan Precision Edge Design membantu mahasiswa merasakan bahwa lensa lebih cepat menyesuaikan posisi dan lebih minim lipatan.
e. Evaluasi Pasca-Pemasangan
Evaluasi dilakukan untuk memastikan lensa:
Tepat berada di pusat kornea
Bergerak sekitar 0.2–0.4 mm saat berkedip
Tidak menyebabkan kemerahan
Tidak menimbulkan rasa mengganjal
Mahasiswa juga diminta mendeskripsikan observasi:
Apakah tepi lensa tampak rata dan menempel baik?
Bagaimana stabilitas lensa selama beberapa menit?
Apakah Precision Edge Design membuat lensa lebih nyaman?
Evaluasi ini memperkuat kemampuan analitis dan klinis mahasiswa.
4. Manfaat Precision Edge Design dalam Proses Pembelajaran
Melalui simulasi pemasangan lensa kontak ini, mahasiswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami bagaimana desain tepi memengaruhi performa klinis lensa.
Berikut manfaat Precision Edge Design yang relevan bagi proses pembelajaran:
a. Mempercepat pemahaman tentang interaksi lensa dan kelopak mata
Desain tepi yang tipis membuat mahasiswa dapat mengamati pergerakan lensa secara lebih jelas dan halus.
b. Mengurangi kendala teknis selama pemasangan
Lensa dengan tepi presisi cenderung lebih stabil saat diletakkan pada jari, sehingga mempermudah tahap awal pemasangan.
c. Meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa
Karena lensa lebih nyaman dan mudah beradaptasi, mahasiswa merasa lebih siap ketika melakukan praktik pada pasien nyata.
d. Memberikan pengalaman yang lebih realistis
Precision Edge Design mencerminkan teknologi lensa modern yang banyak digunakan pengguna saat ini.
5. Tantangan yang Sering Dihadapi Mahasiswa dalam Simulasi
Meskipun teknologi Precision Edge Design memudahkan proses, beberapa tantangan tetap kerap muncul, antara lain:
a. Kesulitan menjaga jari tetap kering
Terlalu banyak cairan dapat membuat lensa mudah terlipat atau tergelincir.
b. Kurang stabil saat membuka kelopak
Teknik membuka kelopak dengan benar memerlukan latihan intensif.
c. Mengidentifikasi sisi lensa yang benar
Walaupun tepi presisi membantu, kesalahan orientasi tetap umum terjadi bagi pemula.
d. Tangan gemetar karena gugup
Simulasi berulang membantu mahasiswa mengatasi hal ini.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa simulasi merupakan tahapan penting untuk membentuk kompetensi dasar mahasiswa.
6. Pendekatan Praktis yang Diterapkan dalam Pembelajaran di Leprindo
Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta menerapkan beberapa pendekatan untuk memastikan simulasi berjalan optimal:
a. Peer Learning (Belajar Berpasangan)
Mahasiswa saling mengamati dan memberikan koreksi saat praktik.
b. Micro-Skill Training
Teknik-teknik kecil seperti mengangkat kelopak, meneteskan saline, hingga menyejajarkan lensa dilatih terpisah sebelum digabungkan menjadi prosedur lengkap.
c. Latihan Repetitif
Simulasi diulang hingga mahasiswa dapat memasang lensa dengan cepat dan nyaman tanpa banyak koreksi dari instruktur.
d. Briefing dan Debriefing
Sesi diskusi sebelum dan sesudah praktik membantu memperkuat pemahaman teoretis dan refleksi pengalaman.
7. Dampak Pembelajaran Simulasi terhadap Kompetensi Klinis Mahasiswa
Dengan mengikuti simulasi pemasangan lensa kontak berteknologi Precision Edge Design, mahasiswa memperoleh peningkatan kompetensi dalam hal:
Ketepatan prosedur klinis
Keterampilan komunikasi dengan pasien
Pemahaman desain dan material lensa terkini
Kemampuan mengevaluasi kenyamanan dan gerakan lensa
Penguatan etika dan keterampilan pelayanan kesehatan mata
Kompetensi ini sangat penting karena sebagai refraksionis optisien, tugas utama bukan hanya menentukan ukuran koreksi, tetapi juga memastikan kenyamanan dan keamanan penggunaan lensa kontak.
Kesimpulan
Simulasi pemasangan lensa kontak dengan Precision Edge Design menjadi metode pembelajaran efektif bagi mahasiswa Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta. Melalui pendekatan praktis ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep desain tepi secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenai bagaimana desain tersebut memengaruhi proses pemasangan, kenyamanan, dan stabilitas lensa pada mata. Dengan memadukan pendekatan instruksional, praktik berulang, serta evaluasi klinis, simulasi ini mampu membangun kompetensi mahasiswa untuk siap menghadapi dunia kerja profesional.

Recent Comments